Seandainya… Mungkin…

Seandainya Mamak masih tinggal di Ciputat, mungkin setelah pulang kerja saya akan berkunjung kesana, mecicipi masakannya yang sedap, menemaninya bercerita di beranda depan sambil melihat ia mengusap-usap lengannya, atau menggunting kukunya yang sudah panjang, bisa juga membantunya masak masakan kesukaan saya.

Seandainya Kandah saat itu tidak terlalu bodoh dan berpikiran sempit untuk mengakhiri hidupnya, mungkin ia sudah menikah dan memiliki anak. Mungkin, saya tidak akan kesepian saat di Solo dulu karena bisa bertukar cerita dengannya. Sudah pasti ia kesepian saya tinggal ke Solo tapi dia yang akan paling sering menghubungi saya, menanyakan kabar saya, dan saya akan membalasnya dengan cerita-cerita menyenangkan, sedih, bahagia, romantis dan lucu dari Solo.

Seandainya saya bisa memutar waktu kembali, maka saya akan lebih perhatian pada mereka. Dengan begitu, mungkin mereka tidak akan pergi dalam kesepian dan kesendirian. Mungkin, saya juga tidak akan menyesal seperti ini.

Seandainya adalah sebuah harapan.

Mungkin adalah ketidakpastian.

Jadi, Zara majulah terus ke depan…