Bulan, Surya, dan Langit

Dahulu kala, ada seekor Kucing Hitam yang sering memandangi Bulan. Ia berharap bisa menjadi Bintang-bintang yang bersinar bersandingan dengan sang Bulan. Menurut Kucing Hitam, warnanya yang hitam pekat mirip dengan langit malam sehingga merasa layak untuk bersanding dengan Bulan. Ia bahkan menyamakan matanya yang bersinar bagaikan Bintang di langit. Sempurna, begitu katanya.
Selama apapun Kucing Hitam duduk menengadahkan kepalanya untuk melihat Bulan, sang Bulan tak pernah sekalipun menyapanya. Yang ada ejekan Bintang-bintang dan sakit kepala.
Pupuslah harapannya untuk bisa bersama-sama dengan Bulan. Kucing Hitam pun berpikir sungguh bodoh jika berharap terlalu banyak terhadap makhluk yang berbeda bentuk dan zatnya. Apalagi tak mungkin Kucing Hitam bisa ke Bulan kecuali ia menjadi bahan percobaan NASA. Sudahlah.

Pagi datang. Sudah pasti ada sang Surya disana. Bersinar terang dan menghangatkan bumi dari sisa dingin malam. Memancarkan sinar ultra violetnya untuk bunga dan makhluk hidup lainnya. Begitu juga Kucing Hitam yang merasa tenteram meski semalam memutuskan untuk mengakhiri harapannya dengan Bulan.
Kucing Hitam merasa hidupnya menjadi lebih baik di pagi hari. Lebih ceria. Ada Surya yang selalu menemaninya bermain di padang rumput hijau. Melompat kesitu dan kemari. Berjemur menghilangkan kutu-kutu di bulunya. Tidur siang dengan hangat dan nyenyak. Tak ada yang lebih baik daripada saat-saat ini, begitu pikir Kucing Hitam.

Tiba-tiba…
Hujan datang. Menghentikan lompat Kucing Hitam. Membasahi bulu-bulunya. Membangunkan dirinya dari tidur siang yang hangat dan nyenyak. Surya pergi.
Lalu ia kembali…
Dengan Pelangi di sisinya. Indah sekali. Kucing Hitam segera berlari pergi meninggalkan Surya. Ia tahu bahwa Surya dan Pelangi tak bisa dipisahkan lagi.

Kucing Hitam terus berlari
Lari…
Hingga lelah…
Ia ingin menoleh ke belakang tapi takut menerima kenyataan. Ia terus berlari secepatnya hingga kehabisan nafas.

Sekarang yang ada hanya Mendung yang setia menemaninya. Jika ia terlalu sedih dan putus asa, Hujan pun menyambanginya. Saat ia marah dan kesal kenapa harapan dan impiannya tak terkabul, Badai dan Petir menyemangatinya.
Kucing Hitam basah. Bulu hitam pekatnya tak bisa lagi ia banggakan. Ia merasa tak diinginkan dan kedinginan.

Hingga suatu hari, Kucing Hitam tersadar. Ada yang selalu mengikutinya sejak dulu.
Saat Bulan mengacuhkannya
Saat Bintang-bintang mengejeknya
Saat Surya pergi bersama Pelangi
Saat Hujan, Petir, dan Badai datang silih berganti
Ada yang selalu bersamanya…

Langit.

Advertisements

Kucing HItam dan Surya #2

November 2005

Surya tenggelam
Di hati remuk redam
Senja nan muram
Di hati penuh dendam*

Galau…
Surya tak tersenyum tak jua mengejek
Surya diam tak berbahasa
Tak bersuara
Apakah surya marah?
Atau…
Surya tak bersinar dikelilingi awan mendung berarak

Sepasang mata menyisiri langit mencari surya
Ada kerinduan pada surya
Namun kabut hitam menghalangi cahayanya

*lirik lagu Chrisye

Kucing Hitam dan Surya

November 2006

Dasar kucing hitam!
Orang baik meninggalkannya
Kau lari pada surya yang menghangatkan jiwa

Bulan yang panas membakar tak peduli
Kau mengejar matahari

Saat matahari terbenam
Kau menanti kembali bulan yang mati

Ketika panas matahari menyengat
Kau berharap malam segera datang
Namun, saat pagi mendung
Kau rindu padanya

Nostalgia #4

19 November 2006

Orang baik pergi ke bulan
Pergi saja!
Kucing hitam tak peduli
Kucing hitam sudah bosan
Menunggu, menanti, berharap, bermimpi yang tak kan pernah terjadi
Dan ia tahu itu!
Mulutnya berkata seperti itu
Tapi hati kecilnya siapa tahu!

Sekarang dia menanti matahari terbit di peraduan
Suatu saat ia akan sadar
Hangat matahari untuk semua orang
Bukan karenanya ia bersinar terang

Nostalgia #3

17 November 2006

Pagi ini kucing hitam menantinya
Berharap-harap cemas akan kedatangan orang baik

Palm spring
Orang baik tidak datang! Atau dia telah meninggalkannya

Kucing hitam sendirian dalam penantian
Ingin segera pergi ia
Namun hati kecilnya berkata jangan

Kucing hitam benci menunggu
Harapannya sirna
Benci akan kebodohannya
Kesal akan orang baik

Ia pun melangkahkan kaki
Lunglai
Ditinggalkan hatinya untuk orang baik
Kucing hitam menatap surya
Mencoba melupakan orang baik