Taman bunga, Ikan salmon dan boneka porselen

Kala itu saya sedang mengerjakan tugas di malam minggu [rajin banget yaa…] ditemani langit malam yang saat itu mendung, mungkin terlalu lelah sehingga terlihat redup. Sekarang, saya memiliki kebiasan bicara dengan langit karena hanya langit yang selalu ada saat matahari terbenam di senja tua, saat bintang dan bulan menghilang kala fajar menyingsing.

Saya bercerita pada langit tentang apaaaa saja. Malam ini tentang arti nama saya, the first atomic flower garden. Kalo dalam bahasa Indonesia, taman bunga kecil pertama. Sampai saya bercerita, saya masih bingung, mencari, dan penasaran akan bunga yang dimaksud dari nama yang diberikan Papa pada saya. Mungkin karena ukurannya yang sekecil atom sehingga saya dan orang lain tidak bisa melihat keindahan taman bunga itu. Tanpa berpikir lama, langit menanggapinya

“kenapa harus bingung, kamu kan bisa menanamnya sendiri”

Ding!
Iya ya, betul juga. Itu kan kebung bunga saya yang bisa saya tanam bunga-bunga kesukaan saya. Terserah. Kenapa saya hanya berpikir mencari bunganya kalo saya bisa memilih bunga yang saya inginkan di kebun saya. Wha~ terimakasih.

Sambil membaca materi, saya bercerita lagi tentang seorang gadis cantik, lucu, dan terkesan ‘harus dilindungi’ seperti boneka porselen yang kalo tersenggol lalu jatuh akan pecah berkeping-keping sehingga wajib dijaga. Sampai-sampai, saya yang seorang perempuan pun ingin turut menjaganya. Dengan jujur saya bilang pada langit kalau saya iri dengan gadis itu yang dijaga dan dimanja oleh banyak laki-laki. Tapi saya sadar, hal itu gak cocok dengan kepribadian saya yang tidak terlalu suka bergantung pada orang lain. Saat itu, langit diam sejenak sambil berpikir. Saya menunggu dengan sabar sambil menekuni tugas saya. Suara langit terdengar,

“kamu itu ikan salmon. Kamu tahu bagaimana ikan salmon berenang?”

“Ikan salmon berenang melawan arus. Saat ikan-ikan yang lain berenang mengikuti arus hanya salmon yang menentangnya. Bagiku, kamu adalah perempuan yang berani dan mandiri sehingga tak takut melawan arus. Kamu berbeda.”

Spirit of Jealousy, 18 September 2011
*thank you for always be there, my sky. I love you.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s